V E N

I write when nobody listens. Later I wish nobody reads too.

"So, I guess we are who we are for a lot of reasons. And maybe we’ll never know most of them. But even if we don’t have the power to choose where we come from, we can still choose where we go from there. We can still do things. And we can try to feel okay about them."

Stephen Chbosky, The Perks of Being a Wallflower.

Perihal : Mencintaimu yang Kutitipkan pada Siklus Rindu

Aku merangkum rindu pada senja,

memejam berdoa agar malam bisa ditunda.

Kamu tak tahu apa yang dibisikan malam sebelum datang,

Bahkan dia terbahak menyaksikan aku dan jiwaku tertuduh mencintaimu dalam tenang.

Ngilu menggerogoti lirih dengan sendu,

Seakan menumbangkan rasa yang belum sempat berkembang.

Mereka bilang ini insomnia, aku bilang ini merindukanmu.

Could you be yourself?

Dozen of quiet dreams that hide in my mind.

Dozen of quiet dreams that touch my spirit and soul.

I take pains in growing them with no speculation.

I’m burned down with their presence and ambition.

Oh poor me, just a little girl in the middle of humanity movement.

I can’t follow every people’s step to reach improvement.

I just want to be my self with proper mind,

never envy with the world that people remain.

But why do pride and haughty spirit come along to fall me again?

Hey self, how many people do you need to be, before you can become yourself? 

When You Were Not You Anymore.

“Just because someone doesn’t love you the way you want him to, doesn’t mean he doesn’t love you with everything he has.” - Twivortiare page 372

Just when I thought this quote, I was really grateful to have you in the past. 

You walked into my life and always kept me strong.

You treated me like a jewel in your crown.

You were the best when I was so dumb.

  

I run away to find my way.

Desiring to see some light on the sky.

I even didn’t what to hear what you say.

My soul are tired and I want to come back home.

Wondering you can feel my tears and take my fears.

But life is spinning so I lost the one more chance.

Now who’s to blame, when the fact is you were not you anymore?

Conan, you have tried your best I really meant it.

If I could take back all the bad things that I’ve been said and done, I would.

But since it’s not possible, just please forgive my sinful soul.

"We never value detail until it’s gone."

VEN

Senin Yang Membutuhkan Curhat

Mau cerita dikit nih, Okay-okay ga sedikit sih lumayan banyak jadi maap banget sebelumnya. Jadi kemaren gue pulang ke rumah kakak yang di Padalarang, seharian setelah pulang gereja dihabisin buat berenang dan makan-makan. Sempet lupa kalau besoknya Senin dan harus balik Bandung, kakak gue nggak mau nganterin. Wajarlah semua orang Bandung atau pelancong dari Jakarta juga tau gimana macetnya padalarang, tol masuk Cipularang dan tol keluar pasteur di weekend. Seperti biasa gue naik bis Kota Baru. “Tumben sepi” batin gue. Gue duduk manis deket jendela pasang earphone dan merem. Sebelum masuk tol Cipularang ada bapak-bapak sekitar 60 tahunan dengan napas ngos-ngosan duduk sebelah gue. Penampilannya termasuk superior dengan tas cangklong hush puppies warna hitam di lengan kanan, celana jeans crocodile dan polo shirt putih dimasukin rapih ditambah leather belt, dan bawa tentengan tas laptop di tangan kiri. Dia nanya “Dek, kalau bis ini ngelewatin alun-alun Bandung ga? Bapak baru pertama kali naik bis ini soalnya, mobil bapak mogok tadi di jalan.” Gue iya-iyain aja biar cepet. Kirain bakalan udah nanyanya dan gue bisa lanjut pasang ear-phone dan lanjut dengerin Bryan McKnight yang lagi nyanyiin lagu romantisnya buat gue. Dia ternyata nanya-nanya lagi gue mau kemana, dari mana, tinggal dimana. Karena emang dasarnya gue extrovert yang suka ngobrol termasuk sama orang baru jadi ya gue ladenin. Sampai pada akhirnya dia ngomong mau ngenalin gue ke anaknya semata wayang yang kuliah di FK Unpad ngambil spesialis kandungan. Oh yeah cewek mana sih yang nggak matanya berubah jadi bentuk love kalau denger mau dikenalin sama calon dokter. Tapi sebagai cewek juga gue masih tetep punya keahlian yang mumpuni buat jadi drama quenn. Gue iya-iyain aja dengan wajah lurus berharap dia menghentikan celotehannya yang menurut gue udah berlebihan banget buat orang yang baru kenal, DI BIS LAGI.

Pas udah nyampe di deket pintu keluar tol pasteur dia bilang baterai handphonenya habis, gue nawarin pakai handphone gue buat hubungin anaknya yang akan jemput itu. Sampai di depan Istana Plaza gue dan dia turun dari bis terus nemenin dia nungguin sampai anaknya datang ngejemput. Sebagai ucapan terima kasih dia nawarin gue makan lah, beliin kenang-kenanglah. Well, ini orang kok baik banget pikir gue, setengah otak lagi mikir apakah ini om-om genit yang udah ditinggal mati istrinya. Gue sigap nolak semua tawaran itu, gue cuma ngikutin dia yang bilangnya mau beli ini itu, liat-liat ini itu buat anaknya di Istana Plaza, lama muter-muter dia belum beli apa-apa. Pas di outlet Giordano tiba-tiba gue dipaksa suruh beli baju dan celana. Gue udah gerah banget sama tingkah laku dia yang aneh banget ini tapi gue ga bisa apa-apa karena dia dengan suara stereo dan bahasa seolah dia bapak gue sendiri nyuruh SPG Giordano milihin outfit dari atas ke bawah buat gue dan maksa gue buat nyobain di kamar pas. Gue turutin maunya, bukannya apa-apa gue malu berdebat di public area. Sebelum gue masuk ke kamar pas, dia pinjem handphone gue lagi buat nelpon anaknya dan nawarin bawain tas ransel gue yang isinya baju renang basah, laptop gue sama tablet pinjeman punya kakak gue. Gue nggak kasih secara tas itu berat banget, “kasian udah tua” pikir gue. Singkatnya gue nyobain baju yang dibawain SPG, gue nyobain celana dan pas gue buka pintu kamar pas, bapak tua itu hilang bersama handphone baru gue Blackberry Apollo White 9360.

Begitulah curhatannya, sekali lagi bukan gue yang curhat tapi hari Senin ini yang butuh curhat. Sorry for the inconvenience. *mundur perlahan* *salim*

Mommyyyyy, I need you right now mom. Your clumsy daughter did stupid things again…..

"Aku selalu berdoa untuk kamu. Bukan, aku berdoa untuk masa depanku. Tapi aku tahu Tuhan tahu namamulah yang kumaksud."

V E N

All I ever do is say goodbye…..

Jejak kaki harapan yang telah menghitam,

lengah berjalan menahan bimbang.

Rindu di genggaman kau hantam dengan kasihan,

hingga gemingmu mengantarku merangkum kesalahan.

Sekarang aku berlutut di persimpangan,

menunggu lampu tanda datangnya hukuman.

Melambat aku membuang jantung yang pernah berdetak hanya untukmu.

Iya disitu, tepat di tong kengerian diatas jajaran mozaik itu.

Di seberang aku melihatmu berjalan.

Kita melangkah berdua, bersama,

hanya tak saling bersisian.

Pada akhirnya bisaku hanya merangkak,

mencoba samarkan luka yang sudah mengerak.

Mau apa lagi?

Aku mau berani menatapi punggungmu menjauh pergi. :)

"Aku menemukanmu secara digital kemudian aku memodulasi perasaanku dan mencintaimu secara analog. Bisa bantu aku untuk mendemodulasinya lagi?"

V E N

"As we grow up, we learn that even the one person that wasn’t supposed to ever let us down, probably will. You’ll have your heart broken and you’ll break other’s hearts. You’ll fight with your best friends or maybe even fall in love with them and you’ll cry because time is flying by. So take a lot of pictures, laugh a lot, forgive freely and love like you’ve never been hurt. Life comes with no guarantees, no time outs, no second chances. You just have to live life to the fullest, tell someone what they mean to you, speak out, dance in the pouring rain, hold someone’s hand, comfort a friend in need, fall asleep watching the sun come up, stay up late, and smile until your face hurts. Don’t be afraid to take chances or fall in love and most of all, LIVE IN THE MOMENT because every second you spend angry or upset is a second of happiness you can never get back."

Antologi Rasa