V E N

I write when nobody listens.

Please Come in, Time!

I keep my finger cross that one day,

when the sun begin to rise,

till the sun come home afresh.

Time will be on my side.

Let me now stop hoping you by forcing my self to swallow the bile.

Though I know your perfectness will haunt my pulse.

Like a demented regret that froze to death,

by the itchiness of the never-answered enigma.

Let me now dwell in your thought as an embattled,

so God able to clothe me these memories as lesson He subjected.

So I can clear my shelf up from books of you and buy another title.

Though I know it will not be as interesting as your tale.

So I can drain my defect and fill the emptiness until it full,

overflow until all molecules containing you became null.

So I can be still.

"You can’t!" You haunted me again.

Oh, what a misfit!

Teruntuk Tuan dan Aku yang Sedang Tersesat di Labirin Waktu

Tuan…
dalam penantian di labirin waktu, aku menyadur inginku.
Aku ingin kita melihat senja matahari renta
ditemani secangkir tawa kita.
Aku ingin kita terbang di rasi bintang
dan melayang-layang senang.
Aku ingin menjelma tangan dan kau itu pasirnya,
tak kugenggam erat agar tak perlahan-lahan lesap.
Aku ingin dengan sengaja tak menuju ke sekawanan rupawan tuk membawamu pulang.
Aku ingin menjadi sendi-sendi yang kuat,
saat kakimu lemas, saat hatimu cemas.


Tuan…
Sambil menunggumu menemukan jalan
aku masih fasih merangkum keinginan.
Aku ingin kita terdampar di sebuah pulau bahasa.
Sehingga aku,
tak lagi perlu menyelam untuk mencari tafsiran dari variabel-variabel di dasar kepalamu.
Aku ingin kita membangun pondok pesisir pantai kita sendiri
dari cinta yang diantar ombak setiap pagi.
Aku ingin menjadi rumah yang kehangatannya kau rindu
dan kehadiranmu dirindu.
Aku ingin kita tanpa sengaja tak melupakan waktu teduh kita
di sepertiga pagi bersama-Nya.
Aku ingin memaafkanmu setiap hari,
saat kau berulang kali
meletakkan kemeja kotormu semau sendiri.
Aku ingin kita bercengkerama di serambi rumah kita,
membicarakan warna cat tembok apa untuk kamar kita.


Semoga waktu-Nya merestui kita.
Semoga kotak pandora itu tak kita buka
dan harap masih tersisa.
Sehingga kapal bermuat rencana,
tak berbalik arah ke penjuru ingatan-ingatan tak bermakna.
Sehingga semua angan tak berlari
ke pihak mimpi yang tak lagi berarti.

Melakukan Perubahan

Beberapa tahun belakangan ini aku mulai suka melakukan beberapa perjalanan. Alasan utamanya ya agar aku lebih bahagia. Tapi aku mencoba mengajukan alasan lain untuk hatiku, “melakukan perubahan”. Semoga dia setuju.

Mungkin sudah banyak dari kita yang menyadari bahwa sebuah perjalanan dapat mengubah diri. Kadang perubahan itu terjadi karena dipicu oleh kejadian-kejadian tak terduga dalam perjalanan. Mungkin dengan alam, dengan keturunan adam, atau dengan Tuhan. Tak sedikit juga perubahan itu muncul begitu saja.

Seorang kawan pernah cerita, waktu hendak mendaki gunung, dia bertekad untuk “menaklukan alam dan berdiri di puncak”. Dia memang sampai ke puncak gunung, tetapi begitu sampai di kaki gunung dia justru mengatakan:

“Benar-benar tolol orang yang berkata akan menaklukan alam, karena justru di puncak gunung lah kita menjadi tahu bahwa sebenarnya kita tidak ada apa-apanya dibandingkan alam semesta.”

Kemudian dia merangkulku dan berkata pelan, “Kamu harus mencoba melakukan perjalanan seorang diri, walaupun hanya sekali, di dunia yang antah berantah, bertemu manusia yang entah mengentah, sebelum kamu mati.”

Batinku mengetuk, aku mulai tahu kalau perjalanan bukan diukur dari banyaknya tempat yang aku kunjungi, tapi dari seberapa banyak aku berubah dalam setiap perjalanan yang aku lakukan.

Kalian juga harus mencoba!

Mengutip dari Paulo Coelho: Engkau hanyalah wahana Sang Cahaya. Tidak ada alasan bagimu untuk merasa bangga atau merasa bersalah. Yang ada hanyalah alasan untuk merasa bahagia.

Title (Optional) :)

Diujung malam ada yang datang,
Sekawanan hujan memukul-mukul jendela tanpa sopan.
Membangunkan orang-orang kecil yang pulas akan kehilangan,
Menyadarkan gadis-gadis remaja yang bangga tanpa keperawanan.
Ketakutan, kepasrahan tak ubahnya membuat hujan mangkir.
Diatas langit elang meliuk, menukik, menggigil.
Sendirian…
Tak bisa pulang karena malu,
Tetap bergeming tapi rindu.

Mungkin langit sedang terisak mengamati isi hati.
Tapi langkahnya tak bergerak untuk mendekati.
Dan bahasanya terlalu kias untuk menasehati.
Tawa lepas nelayan malas telah membeku mengalah pada guntur yang menari-nari di celah-celah angin.
Perahu dan pukat enggan berperang dengan ikan seperti nenek moyangku yang telah mati.

Menjelang subuh wajah bukit berkerudung kabut.
Berselubung sembunyikan senyumnya.
Menangisi generasi bersama gerimis.
Didingin subuh yang berselendang kabut,
orang-orang kecil menguping riuh rendah daun yang mendesah.
Menggali di tumpukan tanah-tanah basah,
Mendengar remah-remah percakapan pemabuk tentang eksistensi Tuhan.
Tidak ada…
Cerita kecil yang dibalut kesederhanaan sudah habis.
Hanya tertinggal jejak kesadaran,
Bahwa hidup telah menjadi proses kehilangan yang terus menerus.

I tried to catch you up, But you purposely skipped hundreds step ahead of me. Waitttt… sounds like love? :O (At Pegunungan Manglayang - 800 Masl)

I tried to catch you up, But you purposely skipped hundreds step ahead of me. Waitttt… sounds like love? :O (At Pegunungan Manglayang - 800 Masl)

"

When you read a book, the neurons in your brain fire overtime, deciding what the characters are wearing, how they’re standing, and what it feels until it pierces your emotion, gives values through your life. No one shows you. The words make suggestions.  Your brain paints the pictures.

And ones who neglect literature, they neglect the most beautiful present God has given.

"

ME - in the Fifth Semester, when I closed the last discussion of Literary Study Subject with a piece of my opinion. Big Thanks to Mrs. Ai for helping us to find this priceless treasure.

After 370 days

Waking up and realising that everything was just my unconscious, Thank God…
Aku kebangun..,
Jam 16.08 waktu Indonesia bagian depan tempat tidur Venna.
Jam 15.38 waktu Indonesia bagian di mana kamu ada. Ga tahu lagi ngapain.
Iya jamku dicepetin 30 menit, aku masih suka ngaret.

Tadi setelah bangun tidur, masih setengah sadar, aku keringetan dan pengen nangis.
Kayak habis mati-matian tanding basket tapi kalah. Keringet beneran. Capek beneran, kebelet pipis beneran. Jalan ke kamar mandi sempoyongan dan pipis beneran.

Sesudah keluar dari WC, aku duduk bersila di atas kasur, degub jantung masih ngos-ngosan, aku ngomong dalam hati;
“Tolong tulis cerita kami lagi, Tuhan.”

"Tolong tulis cerita kami lagi, Tuhan."

Aku ngomong gitu karena tadi pas tidur siang aku mimpiin kamu.

Padahal tadi pagi temen sebelah kamar kost aku nanya, “Eh, lo masih suka mimpiin *****(insert your name here)? Gue kok masih sering mimpiin mantan gue ya? Aku pukpuk dia, aku bilang, “easy girl! lo kan baru 2 bulan pasti masih suka keinget, but time will heal the pain. Aku sih udah enggak da udah lama banget.” Now, I’m doubt, am i really healed?

Tadi mimpinya gini;
Aku baru bangun tidur siang (di dalam tidur siang), kata google namanya false awakening. Trus aku buka hp, cek bbm, line, sms. Eh ada berondongan sms dari kamu, dari nomer kamu sendiri. Sama dari nomer lain, 0812xxxxxxxx2121, aku cuma ingetnya itu aja. Dari bahasanya itu kamu, kalau nomernya mungkin nomer mamah kamu, aku mikirnya gitu karena di keluarga kamu cuma mamah kamu yang pakai simpati? Aku jadi bertanya-tanya, yang sms kamu atau mamah kamu.
Aku baca cepet-cepet, ga sabar isinya apa aja sampai sebanyak ini.

Yang dari nomer kamu:
- Ucapan selamat natal yang garing, yang di forward banyak orang pake tulisan warna ungu. Hih! Aku males inget-ingetnya.

- ucapan tahun baru

- terus aku lupa lainnya apa. Bercandaan biasa intinya. Seperti biasa kamu garing. :’)

Yang dari 0812xxxxxxxx2121:

- “Eh kamu tau ga novelist, sebut saja “mawar”. Eh salah ya. Pokoknya si ini, tau? Bagus banget lho karya-karyanya.” Apalagi yang judulnya The Sandman.”

Di mimpi aku juga heran, selama bareng-bareng selera kita selalu beda. Terus sekarang kamu tanya-tanya tentang Neil Gaiman, kesukaan aku. Weirdo :’) Terus aku scrool down lagi.

- “Sorry, koko tiba-tiba sms gitu. Itu cuma klise. Hehehe…”

Aku sekarang tambah bingung. Well, let’s see the others.

- “Koko sering stalk twitter kamu. Bercandaan kamu ga selucu dulu.”

Ebuset ni bocah maksudnya apaaaaaa??? Lama-lama gue buka komentar pembaca sama tajuk rencana juga deh ni.
And the last one…

- “Maaf itu juga klise, sebenernya koko cuma mau bilang koko kangen kamu. Koko sekarang ada di depan kost kamu.”

Whattttt? Kamu? ke Bandung? Sejak kapan? Sekarang masih ada atau udah pulang? Aku tersenyum simpul, deg-deg an. Aku ngetik balesannya,

"aku juga kangen koko huaaaaaa… bukan sekarang aja tapi udah dari lama huaaaaa…" Sms dikiri….. eh ga jadi, hapus lagi, ngetik lagi, "JANGAN!!!" Sms dikirim, dikirim beneran, tulisannya "sent" beneran. Maksudnya "jangan" apa? Myself didn’t even know.

Aku diem bentar, terus aku pengen nonton tv, nyari remote tv, remotenya ga ketemu, ga jadi nonton tv.

Aku mikir lagi, lebih baik kalau aku mastiin kamu ada di depan kost beneran apa enggak. Kamu selalu begitu, seperti dulu, tiba-tiba nongol di depan rumah kayak ongol-ongol. Ga kasih kabar dulu kalau mau main. Dan aku selalu bangun tidur, belum mandi. Hehehe…

Kamu adaaaaa!!! Berdiri di depan tukang nasi goreng, pakai baju biru, bajunya youth light, pakai celana putih panjang. Kayak di avatar twitter kamu dulu, yang lagi pegang mic, yang lagi ngeMC, yang lagi mecucu, yang sekarang udah diganti lagi.
Ternyata selidik punya selidik kamu lagi ngantri nasi goreng disuruh mamah kamu. Beli nasi goreng sampe Bandung. Aku miris sama mimpi aku sendiri. Absurd.

Akhirnya aku samperin kamu. Kamu senyum, liatin aku, tanpa kata, ga nawarin aku mau nasi goreng apa enggak. Malah emang nasi gorengnya yang nanya. Aku lagi ga pengen nasi goreng jadi aku masuk lagi ke kost.
Aku bingung maksud kamu apa, aku mikir, lama, ga mudeng, aku keluar lagi, mau tanya langsung siapa yang sms, kamu atau mamah kamu? Kamu kangen beneran atau enggak?

Pas udah di luar, udah ga ada yang pakai baju biru, kamu udah ga ada. Aku lari kesana-kesini nyariin kamu sambil pegang hp berisi sms kamu, aku teriak-teriak manggil kamu. Ga ada jawaban. Kamu dimana? Kita belum sempet ngobrol. Aku menitikan air mata disitu, sambil melangkah gontai mau masuk lagi ke kost.

Dan seperti mimpi-mimpi yang lain yang adegannya tampak absurd dan lebay, tiba-tiba langit jadi gelap, kost aku hilang dan berubah jadi tebing tinggi, di depannya menjulang gunung cukup hijau. Banyak orang mendaki gunung itu. Aku mikir aku mendingan manjat tebing ini. Kalau aku ada di tempat yang tinggi, aku bisa lihat semuanya.
Aku mulai memanjat, sambil bawa hp berisi sms kamu.
Susah banget.
Aku takut jatuh.
There’s no warm hands holding me when I’m in truoble, like right now.
You said that you and I versus the world before. Now, just me alone againts this cliff.

Aku udah di tengah-tengah tebing sekarang, masih bawa hp berisi sms kamu. Aku lihat ke gunung di belakangku. Mataku menelusuri setiap warna yang menyebar di atas hijau rumput. Kamu terlihat lagi, kamu berjalan seakan ga terjadi apa-apa, biasa aja sambil megang kresek nasi goreng di tangan kiri. Ada asap mengepul keluar dari mulut kamu. Kamu merokok sekarang? Ga mungkin. Kamu ga mungkin merokok. Aku nangis lagi.

Aku mau panggil kamu tapi posisiku belum pas. Aku berencana naik sedikit lagi sampai ke atas tebing biar bisa lambain tangan ke kamu.
Tapi sekarang medannya susah banget. Aku harus memanjat dengan kedua tanganku, kalau enggak aku bisa jatuh. Apalagi lututku udah mulai lemes sekarang. Aku akhirnya lemparin hp berisi sms kamu. Smartphone ku masih berumur 2 bulan. Tapi ga apa-apa, demi kamu.

Aku udah diatas tebing, kamu masih berjalan menunduk di seberang sana. Aku melihat ada asap lagi, kali ini keluar dari hidung kamu. Aku menelusuri jarak pandang. Aku mau tau apa yang kamu pegang dia tangan kanan kamu. Aku terbelalak. Iya itu rokok. Aku nangis lagi. Aku ga jadi panggil kamu. Aku kecewa sama kamu.

Trus diatas tebing aku kebelet pipis (-_-) [dan aku bangun di dunia nyata aku emang lagi kebelet pipis juga -_-]

-aku-
Yang ngetik ini masih dengan sakit dan penyesalan yang sama, sudah 1 tahun, 5 hari sejak kita selesai doa tutup tahun dan kamu bilang “kita mulai dari awal lagi ya, perbaharui komitmen lagi, perbaiki kesalahan yang dulu-dulu.”

Terus esok harinya I found out you tried to get other girl’s heart.
The same girl, you have been red handed by me before.
I wish nothing but good luck. and I decided to go.
I wasn’t feeling gloomy that time because someone else was beside me too.
And now I realised I was wrong, you were the best and I valued details when it has gone.

Pulang

Ini sudah pukul lima sore, namun matahari masih tinggi, kekuatannya pun belum berkurang sama sekali. Aku masih boleh membunuh waktu disini, itu menurut undang-undang yang berlaku di hirarki keluargaku. Mungkin sebelum pukul tujuh petang nanti aku baru akan menghentikan pergerakan detik dan keluar cafe, meninggalkan kesepian, kemudian pulang, gosok gigi dan mandi pakai shower, menyapa Tuhan lalu tidur. Oh iya, aku pulang ke rumah yang (seharusnya) menjadi suatu kerinduan bagi setiap hati yang lelah, yang tidak punya apa-apa, hanya jiwa.

Kelak ketika aku punya kesempatan untuk membangun rumah, aku tidak akan mengisinya dengan hal-hal yang didapat karena dibeli. Aku akan mengisi ruang keluarga dengan lengking panjang seperti pekik anak kecil yang polos, mungkin kalian menyebutnya seruan sukacita (atau luapan bahagia?). Aku tidak suka keramaian, jadi di ruang tamu yang jarang dikunjungi, aku hanya menempatkan desahan yang menyenangkan, yang terus mengalir seperti sungai yang tidak pernah kering, berliku-liku mengalun bagai alunan nada yang indah. Dan kamarku akan aku desain menjadi muara elok yang belum dikenali siapapun, yang hanya menghisap segala keharmonisan dan keseimbangan hidup.

Diare, eh Diary tanpa Oralit

1 Tesalonika 5:18  Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Iyaaaaakkss……. I’m full of grateful today. It was countless, precious, yet priceless. Walaupun kaki rasanya pengen dicopot terus dititipin ke Zen atau Yuantang gitu, besok pagi diambil lagi, dipake lagi. Tadi jadi usher 2 kali ibadah natal umum berturut-turut, lebih kurang 8 jam-an lah, aku pakai high heels 9 cm warna creemy, ada pita gede di bagian depannya. Hehehe Dasar cewek! Udah tau bakal pegel tapi tetep maksain. :’)

Sekarang pukul 22.00 Waktu Indonesia Bagian Tempat Tidur Venna yang lagi dipakai buat menatap lurus 180° ke langit-langit kostan. Nginget-inget tadi ketemu kamu melulu, sering banget, mana lama, ga ngobrol sih, tapi aku yakin pikiran kita saling bertanya (Atau aku aja?).

Kamu duduk selang satu sebelah kanan aku pas kita break untuk makan. Kamu pakai baju hitam, skinny jeans biru dongker, jaket kulit hitam. Lucu! Soalnya gendut-gendut gimana gitu. Kamu ngobrol, eh bukan, tapi cuma basa basi sama temen aku. Aku lagi makan gepuk, tapi sesekali sudut mataku memicing ke kanan. Aku pengen kenalan sama kamu. Tapi ga mau! Harus kamu duluan! Prinsip! BWEEEKK… (Eh bener kan? Masih jaman kan prinsip begituan?)

Terus kamu sliwar-sliwer di depan aku, ngedorong kursi roda oma-oma lansia dan nganterin ke tempat duduknya. Ya ampuuuun you’re such a gallant troop! Showing your highest respect to any women. #halah
Singkat cerita, setelah kali ke XXX kita saling bertatap muka, ini adalah kali terakhirnya. Sebut saja klimaksnya, kita ketemu di tangga pas aku mau pulang, bedakku udah luntur, udah 8 jam boiii… Kamu duduk di anak tangga nomer tiga dari bawah, aku mau lewat, tapi kehalang. Kita akhirnya lihat-lihatan, lamaaaaa, deket juga, jaraknya ga ada yang ngukur tapi kira-kira cukup untuk lihat bekas jerawat kamu dengan jelas. Hidung pesek aku juga pasti terekam jelas oleh indera visual kamu, kemudian di eksekusi oleh otak menjadi sebuah sistem permanen di pikiran kamu yang bilang, “ni cewek cantik ya”. Aminnn….!!!

Udah ah, pokoknya aku kagum sama kamu sejak drama natal itu. Belum suka sih, tapi ga tau besok pagi. Hehehe.

Selamat tidur kamu yang aku udah tau namamu tapi pura-pura ga tau.